Selamat Jalan Prof. Sahetapy, Sang Ahli Hukum Pidana dari Universitas Airlangga

Jakarta, Replik.co.id – Jacob Elfinus Sahetapy, atau yang lebih dikenal sebagai Prof. Sahetapy, adalah profesor Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Pria kelahiran 6 Juni 1932 itu meninggal pada pukul 06.57 WIB, Selasa (21/9). Ia meninggal dalam usia 89 tahun.

Ia merupakan salah satu alumni awal FH Unair dan melanjutkan kuliah di University of Utah, Amerika Serikat pada 1962.

Sepulangnya dari kuliah di negeri Paman Sam itu, ia dituduh sebagai antek CIA dan baru bisa mulai mengajar pada tahun 1979.

Karir akademisnya tidak hanya di Universitas Airlangga, melainkan di Universitas Diponegoro dan Universitas Indonesia serta pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra.

Bahkan pernah menjadi Guru Besar tamu di Universitas Katolik Leuven dan Universitas Leiden serta menjadi Dekan Fakultas Hukum Unair pada 1979-1985.

Namun karirnya tidak sebatas di dunia akademis saja, Sahetapy pernah masuk dalam gelanggang politik dan menjadi anggota DPR RI Komisi II dari Fraksi PDIP yang mana ia aktif di dalamnya semenjak 1999-2004.

Ia juga pernah menjadi anggota The Asia Pacific Forum of Human Rights.

Sahetapy pernah mengkritik Yusril Ihza Mahendra karena mengeluhkan gaji menteri yang hanya 19 juta dan mengkritik Timur Pradopo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia, berkaitan dengan surat palsu Mahkamah Konstitusi (MK), ia menyebut Pradopo hanya hebat di kumisnya saja.

Melansir dari Hukum Online, Sahetapy pernah berkomentar terkait acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang dimoderatori oleh Karni Ilyas. Menurutnya, perkara yang belum mempunya kekuatan hukum tetap tidak boleh dikomentari oleh siapa saja, tidak terkecuali dosen dan pengacara.

Ia juga pernah menuding bahwa akademisi murahan memiliki keinginan untuk melenyapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berkaitan dengan permasalahan korupsi, guru besar ilmu hukum itu memiliki pandangan yang konsisten, bahwa perlu untuk menumbuhkan budaya malu dan budaya bersalah.

Sahetapy yang lahir di Maluku memang terkenal dengan pendirian yang keras dan terbiasa bicara blak-blakan.

Sang profesor pernah menyebut kabinet SBY “bau amis” dan mengomentari keterlambatatan Moechgiyarto (yang pada saat itu menjabat sebagai Kadiv Hukum Mabes Polri).

Selama hidupnya, Prof. Sahetapy menuliskan beberapa buku, seperti Runtuhnya Etik HukumAnalekta JESTeori Kriminologi: Sebuah PengantarPisau Analisis KriminologiKapita Selekta KriminologiKejahatan KorporasiAncaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana, dan Parados dalam Kriminologi (bersama B. Mardjono Reksodiputro).(Kumpalan)

Related posts

Buruh Ultimatum Anies Cabut UMP 2022 3×24 Jam

Ahmad

Gerakkan Ekonomi Masyarakat, Percepat Penyerapan Belanja APBD

Ahmad

Anwar Abbas Sindir Penyitaan 400 Kotak Amal Teroris, Densus Bereaksi

Ahmad

Leave a Comment